Tumpukan
buku berdebu, kaset tua yang sudah jarang terputar. Tetesan air wastafel
mengeluarkan deningan yang tak ku pahami. Alunan melodi yang tak bisa ku
mengeri, itulah kehidupan. Kenangan selalu ada di sana, 17tahun. Aku masih
rentan dan tak berdaya. Selalu membuat kesalahan lagi dan lagi, selalu membuat
dia menangis. Tapi di sanalah kenagan indah yang pernah aku miliki. Di tempat
itu saat pertama kali aku menemukannya.
Kesedihan,
kesepian yang tak pernah lepas dari bayangan kehidupan ini. Memiliki sebuah
keluarga yang utuh menjadi mimpi indah bagiku. Namun sayang semua itu tak
pernah aku miliki. Ibu meninggal saat melahirkanku ke dunia ini, meninggalkan
kami berdua. Aku dan ayah. Hanya sebuah piano tua yang lusuh terpajang di sudut
ruangan. Itulah barang berharga yang ditinggalkannya untuk kami.
Ayah pernah bilang kepadaku, harta yang paling berharga dimilikinya di dunia ini hanya ada 2 hal. Pertama, kenanganya bersama ibu. Piano tua itulah saksi kehidupanya, awal perjalanan hidupnya, mimpi-mimpi yang ingin direngkuhnya. Setelah ibu pergi dari kami, perlahan-lahan perubahan nyata terjadi dalam kehidupannya. Semua kesedihan yang dirasakan hanya bisa dilampiaskannya saat menekan tots demi tots di piano itu. Suaranya terdengar sendu.
Dan
yang kedua adalah diriku sendiri. Hanya aku seorang yang dimilikinya, tak lain
dan tak bukan. Dia menaruh harapan dan mimpi-mimpinya hanya padaku seorang.
Menggantikan posisi dia, yang tak sempat ia rengkuh. Bahkan hanya menjadi
seorang guru seni musik di sekolah swasta yang tak tetap, yang sanggup ia
jalani. Selalu berpindah ke tempat satu ke tempat lainnya. Begitu juga
kehidupan kami. Membuatku kesulitan bergaul dengan dunia luar. Tapi inilah
hidup bukan?.
Tapi, di saat itu aku berfikir untuk mengambil
alih semua beban dari dirinya. Namun mampukah aku dengan tubuh sekecil ini?.
Entahlah.
****
“Entahlah.
Aku belum sempat memikirkannya.” Sahutku dari dalam dapur yang sedang
mempersiapkan sarapan pagi.
“Hah. Anak muda itu tak boleh menyia-nyiakan
waktu. Kamu tau waktu tak kan……”
“Tak
kan kembali jika disia-siakan. Kecuali diantara kita mau berusaha untuk
mengejarnya.” Aku menyeka ucapan ayah, yang bahkan sudah aku hafal di luar
kepala. Ayah menaruh Koran yang dibacanya ke atas meja, memandang ke arahku.
“Aku tau yah. Nanti Rei akan memikirkanya, sekarang makan dulu. Oke?.” Ku taruh
semangkuk besar sup daging panas di atas meja. Asapnya mengepul menyeruak ke
hidung, membuat perut terasa semakin lapar.
Percakapan
hari itu terhenti untuk sementara. Sedangkan waktuku saat ini adalah mengurus
surat perpindahan sekolah. Seminggu lagi ayah pindah tugas mengajar di sebuah
kota kecil yang jauh dari Ibu kota. Dan aku mau tak mau harus mengikutinya
kemanapun ia pergi. Semua ini sudah menjadi kebiasaan yang tak dapat kutolak
dalam hidupku.
Datang
ke tempat baru, berjumpa orang baru, mendapat teman baru, menempati kelas baru,
dan mungkin aku bisa berjumpa dengan seorang yang spesial. Entahlah. Aku belum
tahu. Jalani saja untuk saat ini.
****
“Bagaimana
bisa di hari pertama seperti ini aku bisa telat?.” Kupandangi jam yang
melingkar di pergelangan tangan kananku. Berlari sekencang mungkin menuju
kelas. Nafasku tersenggal, langkahku terhenti. Sayup-sayup aku mendengar
deningan suara piano. Berasal dari dalam ruang musik.
Kulangkahkan
kaki mendekati muka pintu. Mataku menjelajah mencari sosok yang memainkan
alunan lagu ini. Ketemu. Kepalanya menunduk membuat rambut panjangnya yang
tergerai menutup wajahnya dari samping. Tak begitu jelas. Tangannya sangat lihai memainkan tots tots
piano dengan nada yang begitu sempurna. Tak terdengar kesalahan nada di sana.
Untuk beberapa saa aku terpaku memandanginya,
sampai tak sadar musik yang dimainkanya sudah terhenti. Pandangannya megarah
padaku. Membuatku gelagapan karenanya.
“Hai?.”
Mengankat tangan, berusaha menyapa seramah yang ku bisa. Tak ada respon
darinya. Membuatku salah tingkah.
Dia
berjalan ke arahku, dia tersenyum. Aku tak mengeri maksudnya, hanya membalasnya
dengan senyuman yang terlihat kaku.
“Oh
iya maaf boleh Tanya sebentar?. Kelas musik 2.3 di mana ya?, Dari tadi saya
mencari kemana-mana belum ketemu. Malah sekarang tersasar di sini. Maaf tadi
saya juga tak sengaja mendengar kamu main piano.” Ku garuk kepala belakangku
yang tak gatal. Aku selalu payah memulai percakapan saat pertama kali bertemu
dengan orang baru. Untuk beberapa saat tak ada suara di antara kami, suasana
yang membuatku semakin kikuk.
Dia
mengeluarkan sebuah buku cataan kecil dari dalam tasnya. Menulis sesuatu di
atasnya. Membuatku semakin bingung.
[Keals
2.3?. Itu di gedung A, sebelah gedung auditorium. Dari sini tinggal belok kiri.
Dari sana kamu bisa menemukannya.] Itu tulisan yang ditunjukkannya ke
hadapanku. Kamudian dia kembali menulis lagi.
[Saya
juga ingin menuju ke sana. Mau sekalian bareng sama saya?.] Dia tersenyum
sambil memegangi buku catatannya yang dihadapkan ke arahku. Aku menganggukkan
kepala. Mengekor mengikutinya dari belakang, berjalan mensejajarkan langkah di
sampingnya. Selama perjalanan tak ada percakapan diantara kami. Semua diam.
Sunyi.
Dia
mengantarkanku tepat di depan kelas, kemuadian dia pergi begitu saja. Bahkan
aku lupa mengucapkan terima kasih. Tanya namanyapun tak sempat aku lakukan. Itulah
saat terakhir aku bertemu dengannya, aku juga tak tau bisakah kami berjumpa
lagi?. Entahlah.
****
Semenjak
kejadian itu perlahan-lahan aku mengerti, setidaknya dalam seminggu kami
dipertemukan dalam satu kelas. Musik klasik. Semakin aku perhatikan wajahnya
semakin membuatku tertarik dengannya. Dia amat pendiam bahkan aku tak pernah
melihanya bergaul dengan anak lainnya. Ini semakin membuatku penasaran akan
sosoknya dia yang sebenarnya.
“Hei
Rei kenapa kamu melamun saja?.” Shin menyenggol bahuku, tak sadar selama
pelajaran tadi aku hanya memperhatikan wajah perempuan itu. Aku gelagapan
menanggapi respon dari Shin. “Ah pantas saja sejak tadi kamu mematung seperti
itu karena memperhatikan si Alean ya?.” Perkataan Shin semakin menggoda.
“Ini
tak seperti yang kamu pikirkan. Sungguh.” Aku mengelak, mengalihkan pandangan
ke buku di hadapanku.
“Ah,
jangan bohong lah…wajahmu sudah kelihatan memerah, seperti kepiting direbus
aja…hahaha.”
“Aku
penasaran saja sama dia.” Kembali menatap wajah Shin di sampingku.
“Tuh
kan akhirnya mau cerita juga?.” Aku hanya tersenyum meresponya, dia mangecilkan
suaranya. “Rei asal kamu tahu saja untuk mendekati Alean tak akan semudah yang
kamu kira. Dia memang cantik, mungkin bisa dibilang diantara perempuan yang
lainya dia lumayan. Dan ada tapinya,
selain dia tak bisa bicara, dia juga tak bisa mendengar apa yang akan
kamu katakana. Dan anahnya lagi, dia hanya bisa mendengar bunyi-bunyi tertentu.
Yah seperti nada musik atau barang-brang yang jatuh saja. Aneh kan?”
“Tapi
dia bisa mendengar suaraku, saat aku tanya ruang kelas dulu…” perkataanku
terpotong, ketahuan ngobrol di dalam kelas.
“HEI
KALIAN BERDUA!! KALAU MAU NGOBROL DI LUAR SAJA, JANGAN BUAT KERIBUTAN DI DALAM
KELAS SAYA!!!.” Suara Miss. Lina menggema di seluruh ruangan, membuat
percakapan kami terhenti seketika. Kembali menatap papan tulis, mencatanya ke
dalam lembaran-lembaran kertas. Tapi, perkataan Shin barusan masih terngiang di
dalam kepalaku. Soal Alean yang tak bisa mendengar.
Jam
kelas akhirnya selesai.
Saatnya
bergegas mencari jawaban atas rasa penasaranku sejak tadi.
“Alean
tunggu sebentar.” Kutarik pergelangn tangannya. Dia tarkejut menatapku dengan
bingung, mengerutkan kedua alis tabalnya mengartikan ada apa?
“Eeem..eeem..”
aku bingung mancari kata-kata, mulutku targulum. Cangkraman tanganku melepas pargelangan
tangannya. Dia mengambil catatan kecil, dan mulai menulis.
[Ada
apa? Apa ada yang bisa saya bantu?]
Aku
mencari kertas yang bisa buat aku coret, menuliskan kaa-kata di sana. [Bisakah
kita bicara sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan sama kamu]
menghadapkan lembaran kartas itu ke padanya untuk dibaca.
Dia
menganggukan kepala, tanda tak keberatan. Aku mengajaknya ke ruang musik,
tempat pertama kami bertemu. Tanganku menyentuh pingiran piano, duduk , menekan
nada demi nada. Dia yang awalnya hanya terdiam, mulai terarik untuk duduk di
sampingku. Tangannya menekan satu nada, dua nada, dan sekarang kami saling main
piano bersama. Memainkan piano dengan empat tangan. Permainan yang tak pernah
aku lakukan sebelumnya.
Sesekali
wajah kami saling menatap, tersenyum satu sama lain, kembali memainkan piano. Memainkan
melody Mozaks dengan ritme yang cepat, aku merasa hidup, tubuhku serasa utuh
kembali. Bukan seproh lagi. Aku senang bisa mengenalnya.
Parmainan
kami selesai, nafasku memburu. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, dia
hanya tersenyum menatapku lurus. “Apa kamu bisa mendengarku?” suaraku berbisik
lirih.
Dia
merespon. Menganggukkan kepala. Aku bingung menatapnya, bukankan Shin bilang
kalau dia tak bisa mendengar orang bicara. Tapi sekarang? Apa dia berbohong
padaku? Kepalaku semakin bingung memikirkannya. Dia tersenyum melihat wajahku
yang sedang kebingungan, [Aku bisa mendengar kalau habis memainkan piano J] menunjukkan lembaran kertas ke hadapannku.
“Bagaimana
bisa?” Aku ditambah bingung. Dia hanya menggelengkan kepala. Tak mengerti.
“Alean,
aku ingin tahu banyak soal kamu.” Perkataanku terdengar sedikit kaku.
[Panggil
Al saja.]
“Baiklah.
Al, bolehkah akau menjadi temanmu?”
[Hem..tentu
boleh] aku senang mendengarnya.
Semenjak
itu waktu perlahan-lahan mulai menampakkan senyumannya pada kami. Berjalan
bersamanya, memandang wajahnya membuat waktu seakan berhenti di sana. Aku tahu
kalau piano adalah nafas kehidupannya,. Dan karenanya juga, kami dapat
berkomunikasi. Walaupan hanya dalam hitungan menit, tak apa. Bagiku itu ak
msalah. Inilah waku yang kita miliki berdua.
“Rei
tunggu! Kenapa buru-buru sich, mau ke mana?” Shin menegurku yang sudah setengah
jalan meninggalkan plataran sekolah.
“Mau
ke toko buku.” Jawabku pendek.
“Eh,
mau cari apa?”
“Mau
cari buku tentang Gesture tubuh manusia.” Aku mulai melangkahkan kaki, dia
mengekorku dari belakang.
“Apa
kamu serius soal Al?” dia berjalan sambil menaruh kedua tangannya menyanggah
kepalanya dari belakang, mulutnya mengunyah permen karet yang sesekali
ditiupnya.
“Memangnya
kenapa? Tak ada yang salah kan?” aku membalikkan pertanyaan.
“Selama
ini Al selalu sendirian. Tak ada yang mempedulikannya, walaupun selama ini dia
nyata, tapi semua anak di kelas tak pernah mengganggapnya. Mungkin dia merasa
tak adil akan hidup ini, hanya piano yang di ruang musik itulah temannya. Tapi
Ia tak pernah berhenti untuk bermimpi, dia berusaha keras untuk dihargai orang
di sekitarnya.” Dia tersenyum getir, “Aku senang sobat ada orang yang peduli
denganya seperti kamu. Aku harap kamu menjaganya dengan sepenuh hati.” Dia
memukul-mukul punggung belakangku. Sakit. Aku tak peduli, pikiranku melayang ke
wajah Al seorang.
Hampir
tiga bulan terakhir ini aku belajar cara menggunakan Gesture tubuh, belajar
sekeras yang aku bisa. Ini semua aku lakukan hanya untuk berkomunikasi dengannya.
Ak kurang tak lebih.
Aku
menyayanginya lebih dari apa yang aku rasakan.
Aku
menginginkannya.
****
Waktu
merangkak begiu cepat. Tak terasa waktu satu tahun melesat dari busur
kehidupanku. Hubungan kami juga semakin dekat, membuatku sulit melepaskannya
dari genggaman tanganku. Sebener lagi upcara kelulusan.
“Kamu
jangan sedih seperti itu. Aku akan tetap baik-baik saja di sini.” Al
menggunakan bahasa gesture tubuh.
“Tapi
tetap saja Al. aku ga bisa hubungan jarak jauh, apalagi sini sampai ibu kota
terpaut puluhan kilo meter.” Wajahku terlihal sedih, menyesal.”Seharusnya aku tidak
mengambil kuliah di ibu kota, bukankah kita sudah berjanji. Suatu saat nanti
ingin membangun masa depan bersama, terus bagaimana jadinya kalau…” muluku
terkunci. Jari telunjuk Al mendarat di bibirku.
“Huussh…kamu
tak boleh bicara seperi itu!” seperti itulah arti dari gerakan gesture ubuhnya,
“Aku akan selalu menunggu kamu di sini Rei. Aku janji.” Dia menyodorkan jari
klingkingnya, tanda perjanjian yang abadi. Aku masih ragu-ragu menyambutnya, tangan
kanan Al menyeret pergelangan tanganku. Menyuruh membalas acungan jari
klingkingnya.
“Aku
juga janji akan segera kembali ke sini. Secepat yang aku bisa.” Gesture tubuhku
juga semakin sempurna. Dengan inilah komunikasi kami berlanjut dari hari kehari
berubah menjadi minggu, bulan, perubahan musim, bahkan tahun menghampiri kami
berdua. Semua terasa indah pada waktunya.
Kepindahanku
ke Ibu kota untuk melanjutkan kuliah musik, semua itu karena rekomendasi dari
Ayah yang tak bisa aku tolak. Dengan terpaksa aku meninggalkan dia di sini.
Semua ini membuatku berat.
Di
tahun pertama hubungan jarak jauh kami bisa dibilang lancar,. Setiap malam jam
9 aku sempakan untuk cattingan sama dia, itulah kepingan kenangan yang aku
miliki di saat tak bisa melihat dia secara langsung. Di sini aku merasa
kesepian. Setidaknya itu yang aku rasakan.
Di
tahun ke dua masalah datang satu persatu menghujam diriku. Ayah pergi
meninggalkanku sendirian, dia pergi menjemput ibu di surga. Dia meninggal
kerena serangan jantung mendadak. Hidup di Ibu kota mulai terasa berat,
terpaksa aku mengambil kerja par time untuk menghidupi kebutuhanku sendiri.
Waktuku bersama dia juga semakin jarang kami lakukan. Aku terlalu sibuk untuk
membagi waktu. Waktu tersa terhenti.
Dan
sekarang aku mendapat kabar Al sedang jatuh sakit. Aku tak bisa di sampingnya
di saat dia sedang sekarat. Itulah penyesalah terbesar dalam hidupku. Berusaha
mati-matian aku mngejar kelulusan selama dua ahun setengah. Mendapat gelar
sarjana dan tawaran menjadi seorang pianis terkenal, semua itu aku hiraukan.
Segera aku harus kembali ke kota kecil itu. Terlambat. Semua sudah terlambat,
Al juga pergi meninggalkanku di dunia ini sendiri.
“Al
tak ingin orang ynag ditinggalkannya sedih. Tante mohon jangan buat dia tak
tenang di sana nak Rei.” Mamanya Al mengambil tempat duduk di sampingku,
wajahku tertunduk. “Al menitipkan ini untuk kamu.” Menyerahkan sebuah buku
diarynya Al. aku menatap wajahnya mengambil alih dari tangannya.
“Terima
kasih Tante.”
“Al
selalu senang saat cerita tentang kamu Rei.” Beranjak pergi meninggalkanku
sendiri.
Selama
ini Al menderita HIV/AIDS, dan bahkan dia tak pernah mau cerita sama aku. Dia
tak ingin dikasihani atau hal serupa, dia tahu kapan dia pergi. Dia ak ingin
menyakiti orang lain, di saat waktu benar-benar kejam menjemputnya secara
paksa. Aku ingin berbagi penderitaan sama dia, aku ingin dia mengasih sengah
penderitaannya padaku. Tapi sekarang kenyataannya sudah terlambat. Aku kembali
tertunduk. Menangis.
****
Sepuluh
tahun berlalu dengan sangat lambat. Seperti keong yang merangkak, memberiku
waktu untuk kembali memikirkan semuanya. Mimpi Ayah dan Alean yang dititipkan
padaku perlahan-lahan mulai aku bangun. “AREI SCHOOL” menjadi saksi bisu mimpi
Al. Di sini kami menampung anak-anak yang kurang beruntung untuk dididik soal
musik ataupun perhatian khusus lainnya. Perubahan nyata hanya dapat dilakukan
dengan perbuatan, bukan dengan seribu kaa-kata yang tak berarti.
Untuk
membiayayai ini semua, aku mengambil tawaran dari Profesor Hanry untuk ikut
dengannya di grup orchestra bermain piano. Belajar untuk menjadi orang yang
membanggakan Ayah, aku kembali belajar lagi dari bawah. Semua ini aku jalani untuk
kalian berdua. Mimpi-mimpi kalian akan selalu aku bawa sampai nafas ini berhenti
dari kehidupanku. Aku janji.
“Close
your eyes, hear my melody. I’ll beside you” (tulisan di catatan diary Alean.)
“Aku
sayang kamu Al” kupejamkan mata, menghela nafas panjang.
“Aku
juga Rei…” terdengar suara hembusan nafas di telingaku.
**SEKIAN**
BIODATA
NAMA : NUR ROCHMAH
JURUSAN/FAKULTAS
: SASTRA JEPANG/FAK. ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS : UNIVERSITAS DIPONEGORO
ALAMAT :JL. TEMBALANG RAYA
NO. 01 SEMARANG
NO. HP : 085740494631
ALAMA
E-MAIL : rochmah29@gmail.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar